Kisahku BUKAN kisahmu

INGIN menJADI PENGIBAR
Oleh: Adhian F. Hidayat
     Berkisahkan tentang perjuangan seorang anak yang berambisi, meraih mimpi, menggapai angan dan menembus ruang untuk mencapai sebuah impian. Di mana seorang anak yang bernama Tirta, akan segera lulus dari masa SMP nya, dimana masa Smp nya itu adalah tiga tahun terbaik sepanjang sejarah hidupnya.
Karena….         
Di masa itu adalah masa, dimana ia merasakan pahit manisnya perjuangan orang orang yang berambisi untuk menjadi pemenang.
Di masa itu adalah masa, di mana ia dapat mengerti apa arti kebersamaan yang sesungguhnya dalam kehidupan persahabatan.
Dan di masa itulah, ia bisa mengerti apa arti yang sesungguhnya dari kata patriotis.
Lalu, apa yang ia lakukan?
Bagaimana ia merasakan pahit manisnya perjuangan seorang pemenang?
Siapa yang membuatnya mengerti hakikat kebersamaan?
Dan apa yang merubahnya menjadi sosok patriotis?
      Dan Ekstrakurikuler lah yang membuatnya benar benar berubah menjadi sosok tegar beriman yang penuh ambisi dan keyakinan untuk menjawab semua pertanyaan.
 Lalu, eksrakurikuler apakah yang ia ikuti sehingga bisa merubah hidup nya?
    Banyak orang yang menyebutnya dengan nama PBB (Peraturan Baris Berbaris), yang penuh peraturan dan ketelitian dalam barisan, namun bagi Tirta tidak hanya peraturan baris berbaris yang ia rasakan, namun juga peraturan hidup yang ia dapatkan untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang.
     Di mana saat saat itulah ia mersakan bagaimana ketika seorang pemenang terus berjuang melawan musuh dalam pertandingan, mempelajari tehnik dalam setiap langkah langkah yang akan membawanya menjadi sebuah legenda yang terkenang, dan histori dalam mimpi yang akan abadi sampai hari tua nanti.
     Terdiri dari enambelas pasukan yang berbeda, dengan sifat yang berbeda, watak yang tak sama, dan pandangan yang saling menentang. Maka di situlah ia mengerti apa arti dari perbedaan dalam persahabatan, di mana perbedaan itulah yang memaksa ia harus saling menghargai, menghormati, dan memberi hati yang sama dalam setiap sendi sendi waktu hidupnya yang ia habiskan bersama mereka yang ia sebut kebersamaan dalam persahabatan.
“jika ada seribu kita ada satu, jika ada seratus kita tetap satu, jika ada sepuluh kami yakin kami tetap satu dan jika ada satu itulah kami PASKIBRA” maka semboyan itulah yang menjadi titik balik kebersamaan mereka yaitu moto SANG PASKIBRAKA INDONESIA, yang menjadi pedoman dalam setiap perbedaan dalam kebersamaan.
Dengan sentuhan sang pelatih yang sekali melangkah pantang menyerah, serta jiwa dan semangat sang pengibar itulah yang menyebabkan hati dan jiwa meraka menjadi jiwa sang patriotis yang cinta akan bangsa dan negara Indonesia.
    Ujian nasional baru saja selasai di laksanakan, itu artinya perpisahan mereka akan segera tiba. “ya tuhan, tak terasa tiga tahun di sekolah, tau tau minggu depan perpisahan ?” ujar metika selaku ketua osis yang sekaligus menjadi salah satu anggota pasukan, kepada tirta, sananto, nisa dan temen yang lainya pada saat meraka sedang berkumpul di halaman parkir sekolah.
Seketika nafisah menyambung ujar metika “ iya ya, mungkin minggu depan adalah hari terakhir saya betemu kalian ”,  “ hah… hari terakhir” serempak mereka teriak,
“jangan gitu lah sah, umur kita itu masih panjang, kita harus wujudkan mimpi kita dulu” ujar dayu sambil mengeluh guyon.
Nafisah pun menjawab “ eeeee…. Maksudnya bukan gitu, maksudnya saya kan bakal ngelanjutin sekolah pesantren di luar kota nih, jadi yaa saya bakalan nggak ketemu kalian lagi dong” sambil memasang muka sedih.
“oohh, di sini siapa aja sih yang ngelanjutin sekolah di luar kota?” Tanya nisa.
Tirta: “ teman teman, insya allah saya sekolah ke kuningan, pisah dong sama kalian, mila juga keluar kota kan (mila adalah salah satu pasukan mereka)?”
Metika: “ iya, tapi ingat ya kalian ngga boleh melupakan kita semua, karna kita, ada karena kita bersatu dalam kebersamaan, yang akan mengenang sejarah perjuangan kita di masa tua nanti”
Tirta: “ pokok nya janji, salah satu di antara kita harus ada yang bertemu di istana merdeka, untuk mewujudkan cita cita kita, menjadi seorang pengibar yang perkasa di sana, harus dan harus”
“SIAP…” teriak mereka penuh semangat, tiba tiba
“ssst… berisik ah lagi ngomongin apa sih” pak H.Toto mengambil motornya. (Pak H.Toto adalah kepsek Smp).
“hehehe… maaf pak”
Nisa: “pokok nya pas kita SMA nanti kita harus berusaha semaksimal mungkin agar cita cita kita   tercapai, SETUJU?”
Teng toneng, toneng toneng toneng. Bel pengumuman berbunyi, “assalamu’alaikum wr.wb, di beritahukan kepada seluruh siswa siswi Smp kelas Sembilan yang belum melunasi pembayaran sekolah mohon segera di lunasi secepatnya, batas akhir pembayaran adalah minggu depan
terimakasih, wassalamu’alaikum wr.wb”
Risky (juga pasukan): “Hhhhh….. kirain ada apa, iya nis betul, pokoknya kita harus berjuang mati matian demi mencapai semua cita cita kita, ngga hanya demi menjadi paskibraka”
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…..” adzan dzuhur berkumandang.
Sananto: “Alhamdulillah… Sholat yuk, terus langsung pulang aja ya, soalnya masih banyak kerjaan di rumah mumpung sekolah lagi senggang iya kan”
Dayu: “ ayo, lagi pula masih ada besok kan, besok masih bisa ketemu kan, iya kan, sahabat penting agama lebih utama”
    Seminggu berlalu beriringkan sendu dan pilu, perpisahan di depan mata, dan cita masih tetap di dalam dada, mereka siap melakukan apapun demi mimpi mimpi mereka, terbukti tiga tahun di sekolah tercinta, mereka telah menyumbangkan duapuluh delapan tropy kejuaran baris berbaris dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional, itu pun belum di tambah dengan kejuaraan lainya seperti pramuka dan olimpiade sains lainya. Itu sebabnya mereka bebas dari segala beban dana yang harusnya mereka bayar di sekolahnya.
        Akhirnya, hari yang di tuggu tunggu pun telah tiba. Hari ini adalah hari yang akan masuk ke dalam jajaran hari paling besejarah dalam hidup mereka. Di mana hari ini adala hari di saat orang tua mereka di kumpulkan di pelataran kampus mereka. Ya, hari ini adalah hari perpisahan mereka.
Di antara teman teman di atas ada lagi pasukan mereka yang perempuan dan bersuara indah yaitu kurnia, lainya adalah revina, yuni, fitri, riska dan sarmila.
Kurnia: “rev, yun, fit, ris, sar, ini kan hari perpisahan kita ya, gimana kalo kita ajak temen temen nyayi bareng di atas panggung, yanyi lagu semua tentang kita, setuju nggak?”
Revina: “ yaa.. setuju aja sih tapi gimana temen yang lain ya?”
Yuni: “ iya, nggak apa apa kok, iya kan fit, ris?”
Sarmila: “ ya udah ayo kita ke temen yang lain.”
        Dan untuk menutup perjumpaan mereka yang terakhir kalinya, mereka setuju dan sepakat untuk mengisi kekosongan panggung perpisahan dengan sebuah nyanyian dari peterpen yang berjudul semua tentang kita. Di mana lagu ini adalah lagu yang sangat mengibaratkan isi hati mereka.
       Tanpa rasa malu, canggung, ataupun nerfous, mereka menyayikan lagu dengan begitu hitmat nya di hadapan teman teman dan orang tua mereka, tiba tiba sesuatu yang mengejutkan datang di hadapan mereka, Fernando, pelatih kesayangan mereka tiba tiba terlihat berdiri di antara tamu undangan yang ada.
        Suasana bertambah mengharukan ketika sang pelatih membacakan sebuah puisi tentang mereka, dan diantara kutipan puisinya adalah.
…..ini, bukan hanya sekedar pengalaman, melaikan sebuah perjalanan.
Perjalanan yang amat panjang, dari sebuah benih, menjadi sebuah tangkai….
Ku tak ingin engkau berduka, ku tak ingin engkau meneteskan air mata……
karena, meskipun kini kita kan berpisah, namun hati kita kan selalu bersama……
setelah itu mereka lagsung memeluk pelatih tercinta, dan di pojokan kursi kehormatan paling depan, yang hampir terlupakan, Pembina mereka yang senantiasa melayani dan memfasilitasi mereka terlihat menangis bangga atas kerja keras sang pelatih dan perjuangan pasukan mereka.
Lalu sang pembian berpesan “ di manapun kalian berada, jangan pernah melupaka kebersamaan kalian di sini, perjuangan kalian di sini, dan pengorbanan kalian di sini. Di saat teman teman kalian asik bermain, berlibur, bahkan belajar, tapi kalaian malah sibuk latian, latian, dan latian. Dan saya minta maaf kepada kalian, karena gara gara latian kalian tertinggal pelajaran, kalian kurang waktu bermain dan bahkan hilang, dan gara gara latian pulang sore di saat yang lain pulang siang, kalian di marahi sama orang tua kalian. Mungkin cuman itu yang bisa saya berikan untuk kalian selama tiga tahun ini, semoga kalian bisa menggunakan ilmu ilmu yang saya berikan buat kalian. Dan juga pengalaman yang akan kalian ceritakan kepada teman teman baru kalian di sma nanti, bahkan pengalaman kalian mungkin akan kalian ceritakan kepada anak cucu kalian suatu hari nati. Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih buat kalian yang telah menyumbangkan lebih dari duapuluh teropy penghargaan kepada sekolah kalian yang kalian cintai ini.”
Singkat tapi padat sang pelatih berpesan “ bermimpilah selagi tuhan masih memberi waktu, jangan lupa berdo’a dan berusaha, karena usaha tanpa do’a adalah kesombongan yang luar biasa, serta do’a tanpa usaha adalah kebohongan yang luar biasa pula”.
Ke-esokan hari nya satu persatu di antara mereka yang melanjutkan sekolah di luar kota pergi meninggalkan pasukan tercinta, sarmila, nafisah, metika, dan risky telah menempuh hidup baru, memilih teman baru, sekolah baru, dan lingkungan yang baru tanpa ada yang tau mereka di luaran sana. Termasuk anak yang satu ini si tirta, meninggalkan bumi wiralodra menuju bumi para dewa, kuningan, adalah tempat yang ia tuju untuk melanjutkan tingkat pendidikan nya.
      Dan di sinilah tempat ia menggunakan seluruh ilmu ilmu dan pengalaman yang ia dapat ketika ia menjadi pasukan PBB di masa smp nya.
 Di sini lah ia akan menggapai mimpi mimpi yang selama ini ia simpan dalam nalar dan hati nya.
Dan di sinilah ia akan membanggakan kedua orang tuanya dengan segudang prestasi yang akan ia raihnya.
“ini dia, tempat perjuangan gue yang baru, ini nih sekolah yang akan gue harumkan nama baik nya. Inget kata ka nando dimana bumi di pijak, di situlah langit di junjung. Dan selagi masih ada waktu teruslah bermimpi, berdo’a dan berusaha” Tirta di dalam hatinya ketika melihat gedung sekolah barunya yang jauh lebih megah dan mewah dari pada gedung smp nya yang dulu, yang kalo ujan gede di liburin gara gara kelas bocor terus juga lapangan nya banjir.
     Hari hari berikutnya ia teringat ketika ia berjanji bahwa suatu hari nanti dia harus bertemu dengan pasukanya di istana merdeka, untuk melaksanakan tugas mulia yaitu mengibarkan sang bendera pusaka.
“ betapa bangganya kalau saja ibu melihat putranya  Ade Tirta Rahmat Hidayat ini menjadi salah satu dari pasukan pengibar bendera pusaka di istana merdeka, oke tahun ini itu tujuan saya , mebanggakan orang tua, dan membuktikan kepada mereka yang meremehkan seorang ade tirta” ya mereka adalah teman teman baru tirta.
“ tahun depan saya harus jadi pengibar di istana merdeka .Allahu Akbar…” tirta dalam hati lagi.
     Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan ia lewati dengan penuh semangat dan keyakinan, dengan berbagai macam godaan dan rintanagn, di antaranya teman teman baru nya di sekolah, yang selalu merendahkan dan meremehkan dia, namun tanpa rasa goyah ataupun sedikitpun ia terus maju tanpa jemu berlatih dan berdoa”
         Sampai tibalah pada waktunya ia berjuang tuk mewujudkan impianya, yaitu seleksi calon paskibrakan tingkat kabupaten, sempat ada rasa menyerah namun tersingkirkan dengan keteguhanya tuk membanggakan kedua orang tua nya.
      Lolos tingkat provinsi, seperti mendapat sebuah keajaiban dalam hidup nya, namun itulah hidup penuh dengan perjuangan yang berakhir dengan kebahagiaan dan kebanggaan, teringat lagi kata ka nando “ bahwa usaha tidak akan menghianati hasil” maka sebuah kejutan besar ketika pengukuhan menjadi anggota paskibraka tingkat provinsi, tirta mendapati teman teman smp nya datang dan menyaksikan hasil perjuanya yang tak pernah sia sia sehingga berhasil mewujudkan nya.
     Ucapan selamat dan do’a membanjiri tirta karena keberhasilanya, dan tak lupa dua orang penyemangat hidupnya, cita citanya, keyakinan, dan harapan hidupnya yang menjadi tamu kehormatan dalam dirinya yaitu ayah dan ibunya, “air mata malam mu yang menjadikan akau seperti ini mah, pah, terimakasih atas segala do’a dan dukungan kalian, tirta sayang ayah, ibu semoga allah selalu menjaga kalian amin” ucapan tirta saat dalam pelukan ayah ibunya.
      Akhirnya satu impianya kini telah tercapai, dengan penuh rasa bangga bendera pusaka merah putih di kibarkanya dengan gagah, dan kini saatnya ia mewujudkan cita cita selanjutnya yang akan ia perjuangkan kembali yaitu menjadi seorang pilot, dan ia yakin tantangan nya akan jauh lebih susah, jauh lebih menantang, dan jauh lebih sulit untuk ia hadapi.
       Tapi, ia yakin bahwa tidak ada suatu hal yang tidak mungkin di dunia ini, selagi masih ada waktu, harapan, tuhan, dan keyakinan.

Selesai.

Komentar

  1. Ihh seru banget kisahnya...aku suka

    BalasHapus
  2. WAHH IYA INI CERITA APA CURHAT BANG...

    BalasHapus
  3. Perasaan lebih dari 28, terakhir ngitung 43 kLo gk salah😂
    teruslah semangat, saya bangga padamu de

    BalasHapus
  4. Walaupun cuma 1 tahun kita bersama, tapi kalian masih ingat dan masih sering menghubungi. Bahkan dihari ulang tahunku pun kalian sering menyempatkan untuk datang menemuiku

    BalasHapus

Posting Komentar